IKM Pangan IKM Sandang IKM Barang dari Kayu dan Furnitur IKM Aneka Kerajinan IKM Logam,Mesin, Elektronika dan Alat Angkut IKM Kimia dan Bahan Bangunan IKM Aneka Industri
IKM@News
Selasa, 31 Desember 2019 05:38 WIB
Produk Kerajinan Khas Kepri tidak kalah saing pada Pameran Bergensi INACRAFT 2019

    Event kerajinan terbesar menawarkan beragam produk kerajinan telah berlangsung di Jakarta Convention Center dari tanggal 24 hingga 28 April 2019. Ajang International Handicraft Trade Fair 2019 (INACRAFT) yang dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) ditemani istrinya Ibu Iriana membuka Pameran ini di Assembly Hall, Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, pada Rabu 24 April 2019. INACRAFT 2019 diikuti 1.700 peserta pameran yang terdiri dari 26% binaan dinas-dinas daerah, 9% dari kementrian/BUMN, dan sisanya 66% adalah peserta independen atau perseorangan ikut menyemarakkan pesta keberagaman produk kerajinan tangan. Selain itu, INACRAFT ke-21 untuk pertama kalinya dihadirkan paviliun Luar Negeri dari negara Maroko, Pakistan, Jepang, Hongkong, dan Polandia. Pameran kerajinan berskala internasional ini ditargetkan akan dihadiri oleh 1.000 buyer dari sekitar 60 negara.  "Setiap saya datang ke INACRAFT, saya melihat ajang pameran ini naik kelas dari tahun ke tahun dan kualitas produk semakin baik. Memang itu yang kita inginkan, agar produk kerajinan Indonesia naik produksinya, desainnya, daya saing dan terus naik pamor," ungkap Jokowi dalam pembukaan INACRAFT 2019, Rabu (24/4/2019) di JCC, Jakarta.

    Pada kali ini Provinsi Kepulauan Riau juga ikut berpartisipasi dalam event kerajinan berskala internasional ini.  Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Riau membawa beberapa Industri Kecil dan Menengah (IKM) unggulannya untuk dapat memamerkan produk kerajinan khas daerah.  Beberapa IKM yang turut serta antara lain Kerajinan Enceng gondok dari Kota Batam yang diprakarsai oleh Ibu Isna selaku pemilik dari kerajinan encang gondok tersebut.  Pada kesempatan kali ini Ibu Isna membawa produk-produk kerajinan unggulannya yaitu berupa tas etnik berbahan baku enceng gondok tentunya, selain itu beliau juga membawa keranjang-keranjang serbaguna dengan berbagai macam bentuk dan variasi.  Selain kerajinan enceng gondok ada juga kerajinan dari gongong dari Dekranasda Provinsi Kepri berupa aneka bunga gonggong dan juga cermin berbingkai gongong yang sangat elegan dan bernilai seni tinggi.  Kabupaten Bintan juga tidak kalah, mereka membawa produk kerajinan unggulan khas daerahnya yaitu kerajinan dari tulang ikan yang dijadikan berbagai bentuk kerajinan seperti kapal dari tulang ikan, motor dan vespa dari tulang ikan.  Abdul Samad sebagai pengrajin tulang ikan sangat bangga sekali karena dapat diberi kesempatan memamerkan produk kerajinan hasil karyanya dalam pameran kerajinan bergengsi ini.  Kerajinan tikar anyaman pandan dari Kabupaten Natuna dengan berbagai warna menarik juga ikut serta dalam event kali ini.  Tidak Lupa berbagai macam motif batik khas Kepulauan Riau dari tujuh Kabupaten/Kota juga dipajang di Stand Disperindag Kepulauan Riau sehingga membuat stand semakin menarik dipandang.

       Pengunjung Stand Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepri kali ini cukup ramai tidak hanya turis domestic, para turis mancanegara juga cukup tertarik dengan berbagai kerajinan khas Kepri.  Kerajinan Khas Kepri dinilai sangat menarik dan etnic terutama bagi pengunjung dari luar negeri.  Mereka tidak hanya melihat-lihat saja, beberapa dari pengunjung juga berbelanja souvenir atau kerajinan khas kepri.  Karena keunikannya, kerajinan-kerajinan dari IKM khas kepri terjual cukup banyak, tidak hanya itu bahkan beberapa investor juga berminat untuk bekerjasama.  Pada event Inacraft tahun ini produk IKM Kerajinan Khas Kepri tidak kalah menarik dengan produk-produk provinsi lain ataupun produk dari negara lain.

IKM@News
Jum'at, 20 Desember 2019 04:06 WIB
Menambah Khazanah motif batik, Pemko Tanjungpinang melaunching Batik Gurindam Pusaka

Dekranasda bersama Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Tanjungpinang, menutup akhir tahun 2019 dengan melaunching 12 motif batik yang dinamai Batik Gurindam Pusaka. Dalam rangkaian kegiatan Tanjungpinang Batik Fest yang dilaksanakan pada 13 sampai dengan 14 Desember 2019 di pelataran Gedung Gonggong, turut juga dilaksanakan beberapa kegitan diantaranya, Dekranasda Expo yang diikuti oleh 25 pelaku usaha IKM baik kerajinan dan pangan, lomba mewarnai tingkat TK/PAUD dan TK, Lomba melukis batik totebag tingkat SMP se Kota Tanjungpinang, Lomba Cinderamata dan souvenir khas Kota Tanjungpinang yang diikuti oleh 30 produk-produk menarik dan unik, lomba kreasi fashion busana batik tingkat TK, SD, SMP dan Aparatur Sipil Negara (ASN) se Kota Tanjungpinang, lomba joget dangkong tingkat TK/PAUD serta penadatangan MoU pembinaan Dekranasda dengan SLB Negeri 1 Tanjungpinang.

Dalam sambutannya pada malam launching sekaligus menutup acara, Ketua Dekranasda, Juwariyah Syahrul, menyampaikan alasan penamaan Gurindam Pusaka yakni karena 12 motif yang telah dirumuskan diambil dari 12 pasal gurindam dua belas.  adapun proses pemilihan motif ini, melibatkan stakeholder terkait diantaranya, Lam, Dewan Kesenian, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, praktisi batik, dan Dekranasda sendiri. Tentu kami akan menerima masukan-masukan guna penyempurnaan kedepan dan berharap ke 12 motif ini dapat menjadi ragam pilihan motif batik yang sudah ada seperti motif gonggong, motif kemunting dan lain sebagainya. Ada harapan yang kami cita-citakan ketika ragam batik Kota Tanjungpinang semakin beraneka corak ini. Mudah-mudahan busana batik yang digunakan di instansi-instansi baik swasta terlebih di lingkungan pemerintah Kota Tanjungpinang, merupakan batik asli Kota Tanjungpinang. Ada kebanggaaan dan kebahagiaan bagi kami ketika hasil karya para perajin lokal tentunya dengan standar kualitas yang akan terkontrol, menjadi pilihan utama dalam berbusana. Pastikan kita menjadi bagian penting dalam menggerakkan roda ekonomi berbasis kerakyatan ini.

            Dia juga berharap melalui penyelenggaraan even ini, menjadi media dan wadah berkreasi seluas-luasnya bagi insan-insan kreatif,  dan menjadi momentum bagaimana kita mencintai batik sebagai produk asli dalam negeri dan merasa bangga menggunakannya dalam keseharian kita. Bukan menunggu orang lain, tapi kitalah yang harus memulai dari diri sendiri, mari tanamkan rasa cinta akan produk lokal guna mendukung ekonomi kerakyatan negeri sendiri.

H. Syahrul, Walikota Tanjungpinang, dalam sambutannya turut menyampaikan  bahwa Kota Tanjungpinang yang sama-sama kita ketahui sebagai pusat ibu kota Provinsi Kepulauan Riau serta letak geografisnya yang sangat strategis dengan negara-negara tetangga, mempunyai nilai jual dan nilai tambah yang sangat potensial untuk terus digali. Tentu kita semua berharap strategisnya peluang ini dapat memberikan dampak positif terhadap ekonomi khususnya yang berbasis kerakyatan. Mengulas ekonomi kerakyatan tentu tidak terlepas dari peran usaha kecil menengah maupun industri kecil menengah yang merupakan pondasi dasar perekonomian bangsa ini.

IKM@News
Jum'at, 20 Desember 2019 04:04 WIB
IKM Pangan Kota Tanjungpinang mendapat bantuan sertifikasi halal

Sebagai bentuk hadirnya pemerintah daerah terhadap kepastian sistem jaminan halal produk-produk IKM yang ada di Kota Tanjungpinang, Pemerintah Kota Tanjungpinang melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian memfasilitasi secara cuma-cuma sertifikasi halal kepada 30 pelaku usaha industri kecil dan menengah yang mengolah makanan. Seperti diketahui, dengan berlakunya Undang-Undang No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal pada tanggal 18 Oktober tahun 2019, artinya tepat 5 tahun setelah Undang-Undang di undangkan, maka berimbas semua produk makanan yang beredar wajib bersertifikat halal. Walaupun dalam praktiknya di lapangan ada beberapa kategori yang masih diberikan kelonggaran waktu untuk mengurus sertifikat halalnya.

Dalam sela-sela materi ruang pengantar Jaminan Produk Halal oleh ketua LP POM MUI Kepri, Kepala Bidang Perindustrian, Syarifah Zairina mengharapkan 30 pelaku usaha industri makanan yang sudah dipilih untuk mendapat sertifikat halal memanfaatkan betul kesempatan emas ini untuk meningkatkan kapasitas produksinya dan pemasaran produknya. Dia juga menyampaikan akan terus berupaya mendorong semua pelaku usaha IKM di Kota Tanjungpinang memiliki sertifikasi halal semua.

Ahmad Yani, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Tanjungpinang, dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa program kerja ini merupakan program rutin Disperdagin sebagai bentuk nyata pemerintah hadir memberikan kepastian kepada konsumen, bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh industri kecil dan menengah di Kota Tanjungpinang sudah dijamin kehalalannya oleh Kementerian Agama melalui LP POM MUI Kepri. Seperti diketahui, biaya pengurusan halal dia akui dinilai cukup memberatkan beberapa pelaku usaha yang baru bertumbuh. Sehingga diperlukan stimulan nyata dari pemerintah bagaimana IKM di Kota Tanjungpinang dapat bertumbuh dan berkembang yang pada muaranya turut serta memajukan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan dan mengurangi tingkat pengangguran di Kota Tanjungpinang. Walaupun memulai dari kecil, namun pelaku usaha IKM mampu berdaulat ekonomi atas diri dan keluarganya. Hal ini yang harus ditanamkan oleh masing-masing pelaku usaha IKM yang ada di Kota Tanjungpinang.

Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 9 sampai dengan 12 Desember, dimulai dari rangkain materi ruang teori pengantar jaminan produk halal oleh LP POM MUI Kepri hingga audit lapangan ke masing-masing pelaku usaha IKM. Alwiyana, salah satu pelaku usaha IKM pangan, menyampaikan rasa terimakasih kepada pemerintah Kota Tanjungpinang melalui Disperdagin yang peduli dan masih membina para pelaku usaha kecil yang sedang akan bertumbuh dan berkembang. Fasilitasi sertifikasi ini bagi dia merupakan modal dasar bagaimana akan memasarkan produknya ke khalayak masyarakat luas. Dengan mengantongi label halal tentu akan ada kepercayaan diri yang tinggi dalam memproduksi dan memasarkannya. Dia berharap akan terus dibina dan didampingi dalam pengembangan usaha kedepannya.

IKM@News
Jum'at, 20 Desember 2019 04:01 WIB
Disperdagin dan Dekranasda Kembangkan Batik dan Rajutan ke Bandung

Tanjungpinang yang terus berkembang menunjukkan keseriusannya mengembangkan ragam potensi ekonomi kerakyatan yang ada, diantaranya batik dan rajutan. Perlahan namun pasti, tumbuh industri kecil dibidang batik dan rajut yang ada di Kota Tanjungpinang. Melihat potensi tersebut, Dinas Perdagangan dan Perindustrian beserta Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Tanjungpinang langsung menyusun program kerja dan strategi pengembangan di Kota Tanjungpinang. Hal ini terlihat dengan diadakannya kegiatan pengembangan dan pembelajaran membatik dan merajut di rumah tahanan kelas I Tanjungpinang beberapa waktu lalu. Guna menambah referensi pengembangan kedepannya, maka beberapa pengurus Dekranasda bersama Kepala Disperdagin dan Ketua Umum Dekranasda melakukan pengembangan wawasan “lateral thinking” ke Dekranasda Kota Bandung pada tanggal 4 s.d 6 Desember lalu. Kota Bandung sendiri dinilai berhasil membina kedua komoditi tersebut, diantaranya memiliki sentra rajutan di daerah Binong Jati dan unit pembuatan batik yang berhasil di daerah cigadung, Kota Bandung.

Hj. Yunimar Yana Mulyana, wakil ketua Dekranasda Kota Bandung menyambut hangat kedatangan rombongan Dekranasda Kota Tanjungpinang sebagai bentuk silaturahmi dan kolaborasi sesama organisasi Pembina kerajinan. Didalam sela-sela sambutan, dia menyampaikan rasa terimakasih telah menjadi referensi untuk dikunjungi dan dijadikan media pembelajaran bersama. Dia berharap Dekranasda Tanjungpinang dapat memperoleh wawasan sesuai yang dikehendaki yakni bagaimana pengembangan batik dan seni rajutan di Kota Bandung.

Ketua Dekranasda Kota Tanjungpinang, Juwariyah Syahrul, dalam sambutannya menyampaikan rasa bahagia dapat diterima dan dijamu dengan baik. Adapun maksud dan tujuannya mengunjungi Kota Bandung tak lain dan tak bukan, Bandung memiliki beberapa kawasan pengolahan kerajinan yang berhasil. Selain itu juga dia ingin belajar bagaimana strategi dan program kerja Dekranasda Kota Bandung dalam membina perajin yang ada.

Pada saat melakukan kunjungan ke sentra rajutan binong jati, Juwariyah juga terkesan akan penggunaan teknologi yang sudah sangat masif, sehingga semua perajin disana mampu memproduksi busana fashion yang sering kita temui dipasaran. Bahkan melalui daerah ini, produk rajutan dikirim hamper keseluruh wilayah Indonesia melalui pemasaran online yang ada.

Dekranasda Kota Tanjungpinang, yang pada tahun ini akan melaunching beberapa motif batik khas, juga menjadikan kesempatan kunjungan ke Bandung, untuk belajar di Batik Komar. Pak Komar selaku pemilik menyambut langsung kedatangan rombongan dengan hangat dan ramah. Terlebih antusiasnya menjelaskan sejarah batik Komar dan macam ragam program pengembangan batik yang sudah dilakukannya. Dia berharap Kota Tanjungpinang juga harus percaya diri memiliki industri batik yang besar, apalagi memiliki bonus geografis yang berdekatan langsung dengan Negara-negara tetangga, Malaysia dan Singapura.  

REKAPITULASI DATA*